Ani Gadis Perawan Seksi dan Montok

December 15, 2009

Aku seorang mahasiswa berumur 21 tahun. Pada saat liburan semester aku pulang ke kampungku di Garut. Untuk mengatasi kejenuhan, aku jalan-jalan di kota tersebut. Dan masuk ke sebuah pusat belanja di kota kecil itu. Secara tak sengaja aku memandangi seorang gadis yang bisa dikatakan cantik. Wajahnya memancarkan kecantikan alami yang jarang ditemui pada seorang gadis kota.

Singkat cerita kami berkenalan. Namanya Ani, berumur 16 tahun. Duh, senang sekali aku bisa kenalan dengan gadis seperti dia. Bulan demi bulan telah berlalu, kamipun semakin akrab dan sering berhubungan lewat telepon. Singkat kata, kamipun sepakat untuk menjadi sepasang kekasih.

Pada liburan semester selanjutnya, kami berjanji bertemu di rumahnya. Rumahnya sih sederhana, maklum bapaknya hanya pedagang kecil, tapi bukan itu yang aku lihat. Malam itu kami berdua menonton layar tancap, hal yang sebenarnya cukup simple tapi yah namanya juga lagi kasmaran. Kami pulang jam sembilan malam atas keinginan Ani. Ternyata sampai di rumah pacarku, kami hanya menerima titipan kunci rumah. Keluarganya sedang pergi menegok teman ayah pacarku yang sedang sakit keras.

Malam itu dingin sekali, Ani permisi untuk ganti pakaian. Saat kulihat Ani dengan pakaiannya yang sederhana itu aku terpaku, betapa cantik dan anggunnya dia walaupun hanya memakai pakaian biasa. Aneh, ada seuatu yang aneh yang menjalar ke perasaanku.
“Lho, ada apa Kang?”, tanya Ani.
“Ah, nggak ada apa-apa!”, jawabku.
“Kok melihat Ani terus?”, tanyanya lagi.
“Ngak kok!”, jawabku.
“Kamu cantik, An”.
“Ah Akang!”, katanya lagi dengan tersipu.

Lama kami berpandangan, dan aku mulai mendekati dirinya. Aku pegang tangannya, lalu kuraba, betapa lembut tangannya. Kami saling berpegangan, meraba dan membelai. Perlahan kubuka pakaiannya satu persatu, kulihat ia dalam keadaan setengah telanjang. Kupandangi dadanya di balik BH putihnya, kupandangi seluruh tubuhnya, kulitnya yang sawo matang.
“Kang, bener Akang cinta ama saya?”, tanyanya lagi.
“Bener, Akang cinta ama kamu!”, jawabku sambil membuka BH dan Celana dalam warna putihnya.

Kini ia polos tanpa satu benangpun menutupi tubuhnya. Kubaringkan ia di tempat tidur, lalu kuciumi seluruh tubuhnya. Tubuh Ani bergetar hebat, menandakan bahwa dia baru pertama kali ini melakukan hubungan seks dengan lawan jenisnya.

Lalu kubuka selangkangannya dan kumasukkan penisku dengan extra hati-hati. Ani mengerang dengan pasrah, lalu kusuruh ia untuk menggigit bantal agar suaranya tidak kedengaran oleh tetangga. Kugerakkan penisku, maju mundur. Mata Ani merem melek keenakan. Nafasku mulai memburu, dan Ani mulai tidak bisa mengontrol dirinya, dia memegang bantal dengan eratnya, gerakanku semakin cepat, aku ingin sekali menembus pertahanannya yang rapat itu. Kupegangi payudaranya, kujilat, kukulum, dan kurasakan penisku mulai menegang dan, “Cret…, cret…, cret”. Spermaku keluar dengan deras, Ani memelukku dengan erat dan kamipun terbaring kelelahan. Dalam hati aku bertekad untuk menikahi gadis itu, karena aku sangat mencintainya.


Rental Sex Hot Penuh Asmara

December 15, 2009

Sebut saja namaku Ari (samaran). Aku sekarang kuliah di YK semester tengah-tengah. Aku mempunyai wajah yang ganteng dan berat badan yang seimbang dengan tinggi badan, seketar 171 cm. Dan penis yang ukurannya dapat mengerangkan nafsu para cewek-cewek yang gila sama SEX. Aku termasuk orang gila sama ngesex, sering sekali aku melakukan onani (baik dengan sabun, body lotion, tangan kosong), tapi aku atur sedemikian rupa agar aku terus fit. Hobby-ku menonton BF sambil ngelus-elus penis yang sudah tidak sabaran mengeluarkan sperma. Setiap hari penisku harus kulatih dengan mengelus-elus dan mengocok-ngocok pelan dan halus (tidak sampai keluar) agar tetap pada kondisi ready stock. Aku mengeluarkan sperma biasanya pada saat nonton BF, aku telanjang sambil tiduran, lama-lama penisku menjadi tegang dan kuimbangi dengan kocokan lembut di batang penisku, biasanya kuletakan penisku di antara dua telapak tangan dan kumaju-mundurkan tangan kanan dan kiri berlainan arah. Wah.. nikmat sekali, dan kalau aku sudah sampai orgasme, aku lalu mencari adegan waktu ceweknya di atas cowok di bawah, dan ceweknya bergerak liar memutarkan vaginanya di kemaluan cowoknya. Lalu aku semakin puncak dan kupercepat kocokan dan sampailah, “Crooottt.. ah.. ccrroot..” Muncratlah spermaku sampai 4–5 kali, dan wah.., badanku lemas, dan aku tertidur dengan bugil, dan sperma dimana-mana (di dada, paha, karpet, tangan dan bantal). Kejadian seks yang mengesankan buatku, saat kupinjam CD BF ke salah satu rental VCD di daerah Yogya. Pinjam CD BF ini aku rutin satu minggu sekali, dan pinjam paling tidak 5 VCD (puas nek..). Saat aku masuk rental itu, terlihat yang jaga rental seorang cowok dan cewek, lalu kudatangi yang cowok (maklum kalau sama si cewek agak malu kucing). “Mas.., full..” kataku sambil melepas helm dan duduk di kursi yang disiapkan. “Oh.. ya..,” Tidak lama cowok itu mengambil map warna merah yang di dalamnya berisi pilihan gambar CD BF dengan nomor pemesanan. Sesaat kupilih-pilih BF yang ada dari halaman pertama, sambil mencuri-curi pandang ke arah cewek yang sedang baca novel, maklum saat itu sedang sepi, jadi mereka bisa santai, kuperhatikan cewek disitu yang masih muda. Ya sekitar sama denganku, mungkin tingginya tidak begitu tinggi, sekitar 158 cm, dan berat badan yang montok sekitar 54 kg. Yang membuatku tidak kuat melepas pandangan dari dia adalah ukuran payudaranya yang cukup besar dan menggantung bebas di balik kaos ketat. Wah.., ini pepaya yang besar dan kenyal serta empuk kalau dihisap putingnya, maklum saja ukuran 36B, mana tahan kalau penis ini tidak naik. Penisku saat itu lagi pemanasan, ya.. tegang-tegang sedikit selain akibat pilih-pilih CD dengan gambar yang bugil ditambah lagi suguhan susu yang montok itu. Tiba-tiba si cowok bilang, “Yang mana Mas..?” Aku menjadi kaget, terganggu perhatianku terhadap susu montok itu, “Oh.., Ya.. ini nomer 27, Mas..” “O.., Rin.. nomer 27..” Segera si cewek itu berdiri dan berbalik mencari CD BF no. 27. Wow.., ternyata dia memiliki pinggul yang oke, tidak kalah lagi pantat yang super menonjol dan semok. Aku terus tidak henti-hentinya mengamati belahan pantat cewek itu yang kutahu namanya Rina. Belahan pantat Rina terpampang jelas, karena dia pakai celana kain ketat. “Oh.. tidak ada, kelurar..” kata Rina sambil kembali duduk. Terus aku tidak malu-malu pindah duduk ke dekat Rina biar jelas nomor berapa yang mau kupinjam. “Sebentar Mbak.., ini nomer 13 ada nggak..?” “Sebentar saya cariin..” Rina lalu berdiri lagi dan membelakangiku. Dia mencari dari atas sampai bawah, setelah lama mengurut, dia menemukan nomor 13 tersebut. “Ah.. ini Mas ada kok..” “Oh ya..,” Aku lalu memeriksa CD itu, kucuri pandang ke susu yang montok itu. Memang kalau makin dekat makin jelas tonjolan susu rina ini, putingnya nampak tonjolannya di tengah-tengah gundukan payudaranya. Rina mengerti gelagatku yang terus mengamati susunya itu. “Mas.., mana lagi..? Kok jadi bengong..!” “O.. ini Mbak.., nomer 40,” aku kaget sekali tiba-tiba diperingatkan seperti itu. Aku sengaja memesan nomor yang baling bawah, sehingga Rina nanti bisa menunging membelakangiku. Rina berdiri, dan ternyata dia langsung mencari dari deret yang paling tengah, otomatis dia sedikit menungging. Wow.., ini baru pemandangan yang tidak kalah serunya deh.. Pantat dan belahan pantat Rina benar-benar asli dan oke sekali, kelihatan di selakangannya agak menjorok ke dalam gundukan tempat vaginanya singgah. Wah.. penisku tidak sadar sudah setengan tegak pengaruh dari pantat montok Rina itu. “Ini Mas.., nomer 40..” “Oh.. ya.. Mbak sekalian 45, 50, 49 deh…” Biar dia agak lama menungging, dan aku dapat menikmati belahan pantat Rina yang montok itu, dan sekilas gundukkan vagina yang tertutup celana ketat Rina. “Ini Mas.., 45, 50, 49 ada lagi.” “Udah cukup Mbak..” Aku periksa, mungkin CD-nya tergores atau tidak. “Masnya sering pinjem BF di sini ya..?” “Ya.. lumayan sih.., Kalo nggak semingggu sekali baru kemari..” “Emmhmm.. rutin ya.. suka nonton BF ya.. Mas..?” “Ya.., kalo lagi perlu nganggur aja, lagi bete nih..!” “Kok bete.. kenapa..?” Aku mulai akrab dengan Rina, dan kalau ngomong sudah tidak nanggung-nanggung lagi, aku yakin dia sudah mengerti masalah sex. “Ya.. kalo nggak dikeluarin bisa pusing nih..!” “Ha.. ha.. ya.. keluarin aja..!” kata cowok yang ada di sebelah Rina, ternyata cowok itu mendengar percakapanku dengan Rina. “Lah.. ya.., makannya aku pinjem BF ini, alat perangsang..” Setelah itu aku pulang dan menyalakan komputer dan nonton BF itu, tidak lupa aku telanjang dan menyiapkan handuk kecil untuk spermaku nanti muncrat dan body lotion sebagai pelicin. (Khayalan batang kemaluanku di dalam vagina cewek) Dan pada hari itu aku menghabiskan waktu dengan onani party di kamarku, nikmat dan puas. Lalu esoknya aku kembalikan CD BF itu. Sesampainya di depan rental X ini, kelihatan sepi-sepi saja, lalu aku masuk dan ternyata aku hanya melihat cowok saja yang jaga. “Mas, kembaliin CD nih..!” “I.. ya. Se.. bentar ya.., tang.. gung..” sambil nafas yang terengah-engah. Aku curiga cowok ini kenapa, dia duduk dan kedua tangannya menggenggam kursi dengan erat dan dia kok melihat ke bawah terus. “Ya.., tung.. gu ya.. Mas.. Ah.. ye.. ter.. us..” tidak lama cowok itu mengejang, dan, “Aku.. ke.. luar.., ah.. ah.. ah..” Setelah itu tidak lama kemudian keluarlah seorang cewek dari bawah tempat duduk cowok itu, wah.. ternyata Rina. Kelihatan sperma cowok itu ada di mulut Rina dan sebagaian di rambutnya. “Halo Mas.., kembaliin CD ya..?” Rina menyapa dengan santainya. “E.. i.. ya.” Rina lalu menuju ke kamar mandi yang letaknya di belakang rental X ini. Rina masih berpakaian lengkap, oo.. ternyata dia baru mengkaraoke batang kemaluan cowok ini. “Ya Mas, ada yang bisa saya bantu..?” sapa cowok yang baru dipuaskan oleh Rina lewat mulut binalnya, sambil berdiri dan memasukkan penisnya yang masih basah karena sperma yang keluar terlalu banyak. “Iya.. ini CD-nya.” “Oh.., sebentar ya, Mas..” Cowok ini memeriksa CD apa ada yang tergores atau tidak. Lalu kucoba untuk memberanikan diri bertanya sesuatu pada mas ini, aku menjadi yakin kalau rental ini benar-benar xxx. “Mas maaf ya.., mau tanya.” “Ya.., kenapa..?” “Tadi itu…” sebelum aku selesai ngomong, “Oh.., tadi itu Rina minta oral sama kontol ini, biasa kok Mas, disini nyantai aja.” “O.., jadi siapa saja bisa ya..?” “Bisa aja, kalo sekedar oral, kocok kontol, emut kontol dan elus-elus aja.” “Kalo.., sorry ya Mas.., kalo nge-sex sungguhan gimana..?” “Ya, tanya aja ama Rina, temennya banyak kok. Dia seneng banget kalo nge-sex. Ya.. kan enak sih.” “Jadi kalo onani disini bisa ya..?””Kalo itu sih para pelanggan BF sering Mas. Si Rina tuh yang sering ngocokin kontol cowok. Ya.., kalo Rina nggak capek aja dan lagi ‘MUT’.” Dan tidak lama kemudian Rina kembali dari kamar mandi, kelihatannya dia baru keramas rambutnya, maklum terkena muncratan sperma cowok penjaga rental. “Halo Mas. Pinjem BF lagi..?” “Oh.., nggak kok.” “Rin.., ini Mas mo kenalan ama kamu lebih dalam..” kata cowok rental X itu. Aku kaget sekali cowok itu bilang seperti itu, “Ya Mbak.., boleh nggak..?” “Itu Rin.., Mas ini mo kocokan binal kamu, kamu mau nggak..?” “Bisa..” kata Rina sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk. “Ya.. udah sana ajak ke atas aja Rin.., biar rentalnya kutunggu.” Wah.., ini waktunya menguji perkasaanku, sudah lama penisku tidak ketemu sama sahabat karib si vagina. Lalu aku dan Rina naik tangga menuju lantai dua, dan Rina membawa satu CD BF dari rental itu. Sesampai di sebuah kamar, Rina mempersilakanku untuk duduk di ranjang yang cukup besar juga. Rina lalu mengunci pintu, dia meletakkan handuknya di kursi dan menyalakan TV dan CD player, dan memutar CD BF itu dengan volume yang cukup keras. Tidak lama kemudian terdengarlah erangan nafsu, dan terlihat adegan bugil-bugil dari CD tersebut, ini membuat batangku yang tidak sabar lagi melihat kemolekkan tubuh Rina. Rina lalu membuka jendela selebar-lebarnya, agar suasananya lebih natural. “Gimana Mas, e.. nama kamu siapa sih..?” “Aku Ari, kamu pasti Rina to..?” “Kok tau..?” “Ya.. tau dong..,” Tidak lama kemudian Rina mendekatiku, dan duduk di sampingku, dan tidak segan-segan lagi tangan kanan Rina memegang batang kemaluanku yang masih terbungkus celana pantangku, dielus-elus dan kadang-kadang diremas-remas. “Ari suka sex ya..?” “Ya. Ah.., kamu pinter deh nge-sex..!” “Ah.., kata siapa..?” sambil tetap mengocok-ngocok kemaluanku, dan aku masih pasif merasakan gesekan tangan Rina. “Ya, ah.., hemmm.., kata Mas di bawah tadi.” “Ooo, Mas Ucok toh..,” Sekarang Rina duduk di hadapanku, dan menjongkok sambil tangannya tetap mengocok habis batang kejantananku yang sudah setengah tegang itu. “Ar.., udah dibuka ya..? Biar kontol kamu nggak tersiksa ama CD kamu, biar ngacengnya sempurna.” “Ya.., udah.. buka aja..” Rina pelan-pelan membuka celanaku dari sabuk sampai membuka resleting-nya, setelah celanaku terbuka, aku sedikit mengangkat pantatku untuk memudahkan Rina melepas celana, dan sekarang aku tinggal menggunakan CD biru-ku, dan pakaianku masih terpakai. Lemparkan celanaku di kursi dan Rina mulai duduk kembali di selakanganku, dan aku masih dalam keadaan duduk di pinggir ranjang rental X. “Hemmm.., ah… kontol kamu kelihatanya besar juga Ar..,” puji Rina sambil mengelus-elus naik turun penisku yang masih terbungkus CD. “Ah.. ya.. hem.. oughg.. ye..” erangan yang tidak dapat kutahan lagi, ditambah erangan dari CD BF yang dinyalakan oleh Rina tadi menambah hot suasana di kamar rental X. Rina sedikit demi sedikit membuka CD-ku, dan terlihatlah batang kemaluanku yang sudah mengacung keras seperti rudal siap lepas kendali. “Wow.., Ar… kontolmu lumayan juga nih..” sambil tetap mengocok naik turun kejantananku, “Kamu rawat ya..? Kok tegaknya sempurna banget sih..? Keras lagi..,” “Ah.., te.. rus.. rin.. don.. stop..!” Rina mulai mengocok keras, cepat, dan tiba-tiba pelan, keras lagi, pelan lagi. Wah.. ini membuat aku menjadi kelabakan, ternyata Rina ahli juga membuat cowok melayang, hampir saja aku keluar tapi aku tetap bertahan. Kemudian Rina mulai mengocok batang kemaluanku dengan tangan kiri dan tangan kanannya mengelus-elus telur. Wa.., ini nikmat sekali, geli-geli gimana ya..! Kadang-kadang dia menusuk-nusuk anusku dengan telunjuk kanannya. “Ah.. ya.. te.. rus.. Rin.. kamu.. ahli deh..!” Sekarang Rina mulai dengan mulutnya, perlahan-lahan dimasukkan penisku ke mulut binalnya. Saat masuk mulutnya, “Ah.., hemmm.. ye.. ah…” Aku sedikit mengangkat pantatku, terasa dingin geli dan enak sekali, lain dengan onani. Perlahan-lahan Rina mengkocok penisku dengan mulutnya dan lidahnya yang lincah. “Ha.., ough.., ehmm.., ye.. te.. rus..” kupegangi rambutnya, aku tarik turunkan kepalanya untuk mengatur kocokan mulutnya di penisku. “Ehhmm.., Eh.. em..,” suara mulut Rina yang penuh dengan batangku. Tidak lama dia menarik nafas, dan mengeluarkan penisku dari mulutnya. “Ah.., hemm.., kamu kuat sekali Ar.. Biasanya cowok-cowok kalo dioral dikit udah keluar..” Lalu dia melanjutkan dengan menyedot telurku, dan dilepaskan sampai bersuara, “Ploks.. ploks…” Tarian lidah Rina di ujung kepala penisku dan sampai anusku juga tidak ketinggalan dari nafsu seksnya itu. Dan setelah beberapa menit lamanya aku bertahan dari tarian lidah Rina di penisku, aku mulai merasa tidak kuat menahan spermaku yang mau keluar. “Ah., Rin.., aku.. mo.. ah.. ye.. keluaarrr..!” Dan Rina mulai memasukkan semua penisku di mulutnya, dan dikocoknya dengan cepat dan keras. Tidak lama kemudian, “Ahh.. crrooot… crroottt.. ah.. ye.. yes..!” Rina menutup mulutnya rapat-rapat supaya spermanya tidak keluar dari mulutnya. Dan selama 30 detik lamanya dia menekan mulutnya tetap di penisku, dan meyakinkanku tidak keluar lagi. Lalu dia melepaskan mulutnya dari penisku, dan menelan semua spermaku walaupun ada yang keluar sedikit dari mulutnya. Aku lemas dan telentang di atas ranjang dengan telanjang bawah saja, dan aku merasa panas dan aku melepas semua pakaianku. Sekarang aku bugil, telanjang tanpa sehelai benang di hadapan Rina yang menikmati spermaku. “Kamu lumayan juga Ar..! Bisa bertahan beberapa menit lamanya.” “Ah.. biasa aja tuh..!” “Kamu pake obat ya..? Irex kali..?” “Ah.. nggak juga.” “Udah.., kamu istirahat dulu. Aku mo bersihkan mulutku nih.. Eh, makasih spermanya lho.. gurih..!” katanya sambil terseyum. Dia menuju kamar mandi yang ada di kamar itu. Ternyata dia sikat gigi, biar tidak bau kali. Aku beristirahat sambil telanjang menunggu Rina keluar dari kamar mandi. Dengan ditemani CD BF yang dari tadi tidak usai-usai, menambah batang kejantananku tidak mau tidur, penisku masih tegak walaupun tidak sekeras tadi. Tidak lama kemudian Rina keluar dari kamar mandi, dia tetap berpakaian lengkap, kaos ketat dan celana kain ketat. Rina mendekatiku yang lagi telentang telanjang di ranjang, dia duduk di sampingku. “Lho.., kontol kamu kok nggak turun-turun sih..?” “Ya.., itu lihat BF mana bisa turun, apalagi susu kamu yang montok itu menggoda kontolku.” “Ah.., kamu bisa saja.” candanya sambil langsung tangan kanannya mengocok-ngocok pelan batangku yang sudah setengah tegak. Perlahan-lahan dia menunduk dan mencium bibirku dengan bibir tebalnya itu. Aku langsung melumat habis bibirnya, permainan lidah Rina memang mahir, dan aku imbangi saja dengan permainan lidah yang tidak kalah mahirnya. Sekitar beberapa menit kami bermain kiss dan kiss, dan Rina tetap mengocok penisku, aku mulai menjelajahi susunya yang montok itu, kuremas dengan tanganku yang dari tadi gatal sekali. Terasa kenyal dan empuk sekali susu Rina, kuelus-elus dan kugesek-gesek halus putingnya dari luar kaos. Sekarang rina melepaskan lumatan bibirnya, dan mengerang merasakan tarian tanganku di susunya itu. “Ah.., ye.. em.. enak.. Ar.. te.. rus.. ya.. itu.. ough..” tangan Rina tetap mengocok-ngocokku dan aku berusaha melepaskan kaos Rina dan dia langsung membantunya dengan melepaskan sendiri kaos ketatnya itu. Nah.., sekarang terpampang susu Rina yang tertutup BH 36 itu. “Rin.. aku buka ya.. biar terlihat bebas..” “Buka aja..” Rina lalu mengangkat kedua tangannya memudahkanku melepas kaitan BH yang ada di belakang, susu Rina yang montok itu terpampang bebas di depan wajahku, dan aku langsung saja melahap habis susu Rina yang besar sekali. Kusedot, kuremas dan pelintir putingnya. “Ah.. ye.. oug.. hem.. te.. rus.. Ar..!” mulai tidak jelas ucapan Rina. Kami mulai duduk berhadap-hadapan, dan selakangan Rina mulai dibuka lebar, dan aku duduk di antaranya, sehingga aku puas mempermainkan susu montok Rina. Kupegang kedua puting Rina yang cukup menonjol itu, dan kupelintir bebarengan. “Ah.. ye.. ah.. aow.. yes.. no.. ough..” Kepala Rina bergerak tidak karuan, ke kanan ke kiri. Kurebahkan Rina dan kududuk di perutnya, aku mengarahkan penisku di belahan susu Rina, dan kurapatkan susu Rina yang besar itu untuk menjepit penisku dan aku maju-mundurkan penisku. “Ah.. Rin.. su.. su.. ah.. ye.. em.. puk enak..” aku mulai kocok susu Rina sampai susu Rina berwarna merah. Ternyata Rina menikmati ini, dan aku tidak sabaran lagi ingin menikmati vagina cewek ini. Aku mulai turun dan mengelus-elus vagina Rina dari luar celana ketatnya, terasa sekali vaginanya sudah becek sekali akibat permaian panas kami. Kusuruh Rina berbalik telungkup, dan terlihat resleting celananya masih tertutup rapat. Kumulai menurunkan resleting itu, Rina sedikit mengangkat pantatnya agar memudahkanku untuk melepas celananya, dengan posisi menungging ini pantat Rina kelihatan makin montok dan bahenol. Tidak lama kulepas celana ketat Rina. Wah.., ternyata Rina benar-benar terangsang sekali. CD kuning tipisnya bawah total, dengan posisi menungging ini bongkahan vagina makin terlihat, apalagi Rina merenggangkan selakangannya. Aku mengelus-elus bongkahan itu dengan tangan telunjukku, Rina sedikit mengangkat pantatku akibat rangsangan tanganku, dan biasanya pantat Rina otomatis maju mundur dengan sendirinya. Lalu aku melepas CD kuning tipis mulik Rina itu dengan pelan-pelan, dan Rina memberi sensasi dengan memutar-mutarkan pantatnya, wowo.. woo.., ini bari sex dan super model sex, dia pintar sekali meningkatkan nasfu sex lawannya. Terlepas sudah CD Rina, terlihat bebas pantat yang putih mulus tanpa cacat dan vagina yang memerah basah dan berambut rapih. Aku mulai mengelus-elus permukaan pantat Rina. “Ah.. Ar.. ehmmm.. ouhghhh.. ah.. ye.. langsung aja Ar.., aku.. nggak.. tahan… oh.. ye..” sambil merem melek Rina menahan nafsunya. Langsung aku mendekatkan wajahku di belahan pantat Rina, dan langsung melumat habis vagina Rina dalam posisi menungging. “Ah.. ye.. dalam.. Ar.. ough.. ye.. oh.. ye..” sambil meliuk-liukkan tubuh semok-nya itu Rina mengerang tidak karuan, karena kupermainkan klit-nya Rina dengan lidahku. Kunaik-turunkan lidahku di penjolan daging itu. Belahan vagina Rina lumayan tebal, dan merah warna dalan vaginanya dan becex sekali. Beberapa saat kemudian aku memasukkan dua jariku, yang satu kumasukkan di vagina Rina dan yang satu lagi kumasukkan di anusnya. Pelan-pelan kumasukkan, “Hemmah.. pelan.. pelan.. Ar.. ya.. te.. rus di.. kit..lagi.. ough..” Rina mengangkat pantatnya sebagai reaksi jari masuk di vagina dan anusnya. Pelan-pelan kukocok anus dan vagina Rina dengan jariku. “Yac.. ah.. le.. bih.. cepat.. Ar, oh.. ye.. oh.. no.. ye.. ya.. oug.. hemmh.. cepet..!” Aku mulai mempercepat kocokanku di kedua lubang kenikmatan Rina. Sementara itu aku tidak menyia-nyiakan susu yang menggelantung bebas. Dalam posisi nunggi ini aku dapat melihat dengan bebas gerakkan tubuh Rina yang bahenol dan montok. Kuremas dan pelintir putingnya. “Ah.. Ar.. aku.. kee.. ke.. lu.. ar.. nggaa.. kuuu.. at..” Aku merasa Rina mulai dalam kondisi orgasme yang memuncak, kupercepat kocokan tanganku di vagina dan anus Rina. Tidak lama kemudian Rina mengejang dan mengangkat badannya dengan gemetaran, dan terasa cairan hangat dari dalam vagina Rina. “Serrr.. serrr…” lumayan banyak sampai keluar dari permukaan vagina Rina. Rina lelah dan terkulai lemas di ranjang dengan posisi telungkup telanjang. Lalu tanganku kucabut dari vagina dan anus Rina, terlihat cairan yang lumayan kental dan putih di jariku, lalu kuusapkan ke kejantananku sebagai pelicin. Kukocok-kocok pelan dan lembut penisku agar tetap tegang dan tegak berdiri. Sementara itu Rina telanjang dan membelakangiku, aku lalu membalikkan dia. “Rin, orgasme kamu hebat banget deh..” “Oh.. ah.. kocokan jari kamu hebat sekali, kamu belajar dimana sih..? Kok tau kelemahanku..?” sambil terus mengocok penisku. “Ya.. nonton BF aja kan udah pengalaman.” “Ah.. kamu bisa aja.” katanya sambil menggantikan tanganku untuk mengocok batangku yang mau keluar lagi. “Rin, boleh aku coba vagina kamu ini..?” sambil kuelus-elus vaginanya. “Boleh..” Lalu kulebarkan selakangan Rina, dan kurangsang dulu dengan oral di vaginanya. Lidahku menyusuri vaginanya dari atas ke bawah dan ke atas lagi dan seterusnya. Rina mulai mendesah keenakan. “Ehhmm.. ah.. ye.. Ar.. sekarang aja kontolmu masukin deh..!” Lalu kupegang kedua paha Rina, lalu kuangkat ke atas, terlihat jelas vagina Rina yang sudah membuka lebar dan becek. Pelan-pelan kumasukkan batang kemaluanku ke vagina Rina. “Ouhg.. hemm.. ah.. ye..” erangan Rina menerima sodokan pertama penisku. Aku mulai memaju-mundurkan penisku dengan pelan-pelan. “Oh.. ye.. shiit.. ah.. ye..” erangku. Enak benar vagina Rina, dindingnya berdenyut-denyut. Aku mulai percepat kocokanku, dan semakin cepat. “Ah.. Ar.. yes… oh.. no.. ough… hemm.. ya.. ya.. te.. rus.. Ar.. dalam..” kepala Rina yang tidak karuan ke kanan dan ke kiri. Kuvariasi kocokanku dengan pelan-pelan, lalu tiba-tiba cepat sekali, pelan lagi cepat lagi dan seterusnya, biasanya kuputar pantatku agar penisku memutar di vagina Rina. “Ya.. ini.. oke.. Ar.. te.. rus.. ough.. ye.. hem..” Rina menyukai gerakan memutar dari pantatku. Sekitar 3 menit gerakan ini berlangsung, kubalikkan Rina dengan posisi menungging, dan kutancapkan lagi penisku di vagina Rina dari belakang. Dengan pegangan pinggul Rina yang semok itu aku langsung percepat. “Oh.. ye.. Rin.. vaginamu oke..” “Kontol kamu.. ouhg.. hemmm.., hebat.. Ar.. te.. rus.. da.. lam..!” Setelah beberapa saat, tiba-tiba, “Ah.. Ar.. aku akan, aku.. ke.. luar..!” “Ta.. han.., nanggung nih! Ah.. ye.. hemm..!” Terasa aku sudah sampai, kusuruh Rina untuk duduk di atasku, dan dia memegang penisku, dan dimasukkannya ke vaginanya. “Ouh.. ya.. Rin.. kamu.. hebat..!” “Ya.. Ar.., cepet ya..! Aku, keluar.. ah.. hemm..!” Lalu rina mempercepat gerakannya dengan sangat liar, dia merangkulku dan menggerakkan pantatnya untuk mengocok batang kejantananku dengan cepat. “Oh.. Ar.. aa.. ku.. ngga.. k.. tahan.. keluar.. hem..!” “Ki.. ta.. samaan.. aku.. keluar.. juga..” Dalam hitungan tiga detik, “Crroot.., crroott.. ah.. ah.. ye..” “Seerrr.., sreerrr..” kumuncratkan spermaku ke dalam rahim Rina, dan terasa sekali semburan cairan hangat Rina di kepala penisku. Rina lemas di dadaku, dan kami tertidur di ranjang itu dengan bertelanjang ria. Setelah istirahat beberapa jam, aku terbangun, ternyata Rina sudah tidak ada di sampingku. Lalu kukenakan bajuku dan turun ke tempat rental, dan ternyata Rina ada disana. “Mas Ari udah bangun ya..? Nggak mandi dulu Mas..?” “Oh.., nggak Rin, makasih.” “Nggak pinjem BF lagi..?” “Ah.. tidak dulu. Lagi pembuangan besar-besaran tadi di atas.” Rina tersenyum, lalu aku pulang ke kostku dan aku langsung mandi. Besok-besoknya aku ke rental X itu untuk kocokan penis saja sama Rina. Setelah beberapa bulan aku tidak kesana, kuketahui Rina tidak di situ lagi. Kutanya sama mas yang jaga di rental X itu dimana Rina berada, ternyata Rina ke Jakarta. Wah.., nyesal sekali nih.. mulai nih.. tidak ada pemuasan sex selain onani deh.


Ngesex Bareng Teteh Yuni yang Hot

December 15, 2009

Setelah aku ditinggal oleh Togeg karena dia sudah menikah kembali aku dalam kesendirian.Kisah ini kembali aku ceritakan ketika aku sedang off kuliah karena materi kuliah aku sudah selesai dan tinggal menyelesaikan skripsiku.Karena banyak waktu luang aku kerjakan skripsiku tersebut di kampong.

Sejak ditinggal togeg hamper 1 tahun aku memang sudah tidak pernah lagi melakukan hubungan dengan wanita yang kubilang tidak ada sensasi yang membuat aku menikmati hubungan itu.Hanya dengan wanita-wanita yang memang biasa dipakai oleh lelaki hidung belang saja aku melakukan hubungan seks dan itupun belum tentu sebulan sekali.Ya karena memang aku tidak bias menikmati sensasi ketika berhubungan dengan wanita seperti itu.

Di kampung sambil menikmati waktu senggang aku sering bermain-main dengan teman-temanku di rumah (nama aku samarkan dng mbak Ni).Rumah mbak Ni memang sering buat ngumpul-ngumpul anak-anak muda di kampungku.Karena mbak Ni dikampung aku memang sudah bukan rahasia lagi dia mempunyai kelainan seks.Dia seorang (maaf) lesbi jadi anak-anak dikampungku tidak merasa canggung untuk bermain ke rumah dia.

Mbak Ni tinggal bersama adik dan iparnya dan dengan 2 anak adiknya.Mas Ranto dulu sempat tinggal di Subang dan karena dia ada kasus di tempat kerjanya maka memutuskan untuk kembali ke kampungnya beserta Teh Yuni dan dua anaknya.Mas Rinto orangnya memang pendiam tapi di balik itu dia mempunyai kebiasan memakai dan menjual obat-obat terlarang.Di suatu hari Mas Ranto ketahuan sedang menjual obat-obat terlarang dan dilaporkan oleh warga kampong sebelah keaparat dan oleh polisi dia dijadikan TO.

Mas Ranto lalu kabur entah kemana dan istri serta dua anaknya ditinggal di rumah mbak Ni.

Istrinya mas Ranto,mbak Yuni kita memanggil teh Yuni dengan “mbak” hari-harinya selalu menangis karena dia merasa malu pada tetangga,mana dia tidak ada pekerjaan di sini dan harus menanggung dua anaknya.Usia mbak Yuni waktu itu beda 5 tahun denganku sekitar 27an.Sudah hamper 2 bulan tidak ada kabar dari suaminya dan akhirnya dia memutuskan untuk berjualan.Dia minta aku untuk memberikan pinjaman untuk dagang,”Don..pinjami mbak dong buat modal usaha,mbak pingin jualan rujal..yah lumayan untuk tambahan uang jajan si Ria dan Arif”pintanya kepadaku.Mbak Yuni memang paling dekat dengan aku karena anaknya yang paling kecil si Arif suka mengajak jalan-jalan naek motorku.Akhirnya dengan uang yang aku punya mbak Yuni biasa membuka warung rujak meskipun kecil-kecilan.Dan karena rujak yang dia bikin memang termasuk enak dagangannya selalu laris sebelum sore.Aku selalu maen ke rumah mbak Yuni sore hari setiap habis jualan sekedar ngobrol…”Don aku mandi dulu ya…”,kata mbak yuni.”Ya lah mandi dulu sana mbak,aku ngajak si Arif muter-muter dulu…sambil nganter mbak Ni kerumah temennya”kataku.

Karena anak kecil aku ajak naek motor dia sudah tidur duluan dijalan sehabis mengantar mbak Ni dan aku memutuskan untuk balik ke rumah mbak Yuni.Sambil menggendong Arif kubawa dia kedalam kamar mbak Yuni.”Mbak Yun..Arif dah tidur nih…”,seruku ma mbak Yuni.”Tidurin aja dikamar Don…,”sahut mbak Yuni dari belakang.Setelah aku meletakkan Arif di tempat tidur kututup pintu kamar dan lalu aku ke dapur dimana aku tadi meletakkan rokok aku.Dan kulihat mbak Yuni masih duduk dengan memakai handuk yang dililitkan dibadannya sambil merokok.

“Lah belum mandi mbak..tumben merokok,”kataku.
“Ntar lagi deh..lg keringetan…aku minta rokoknya satu ya Don…lg puyeng ni..,”kata mbak Yuni.
“Ambil aja mbak..si Ria mana mbak kok gak keliatan,”tanyaku
“Ria tadi pagi dibawa sama kakeknya ke Subang,biar dia sekolah disana aja…,”katanya .Dan kulihat genangan air matanya mulai tumpah.”Ya udah lah mbak biarin daripada di sini mbak Yuni gak bisa nyekolahin Ria biar dibiayai kakeknya,”bujukku lagi sambil mendekati mbak Yuni dan duduk disampingnya.Dengan masih merokok mbak Yuni mengusap air mata dan mencoba untuk tegar.Tiba-tiba mbak Yuni memelukku “Don sory ya mbak belum bisa balikin uang Dony yang mbak pinjem…”pintanya.Karena kaget aku sempat gelagapan sambil menjawab”Yaa..ddahh..gak pa2 mbak..nanti kan juga ada rejeki lagi”.Karena mbak Yuni memelukku sambil duduk di bangku panjang sehingga dia mendoyongkan badannya ke arahku.Teteknya menempel di dada kananku,kenyal rasanya dank arena dia hanya melilitkan handuk yang tidak begitu besar dan hanya sampai ke atas kurang lebih 20 cm dari lutut sehingga paha atasnya tersibak.Dadaku jadi berdebar-debar melihat paha mbak Yuni yang putih mulus.Bisa aku gambarkan badan mbak Yuni tinggi hanya sekitar 150 cm dan ukuran dadanya 35 dan masih terlihat kencang,kulitnya kuning dan agak langsing di bodynya,wajahnya tidak cantik dan jauh dari jelek,tapi “face” nya tidak membosankan.Reaksi spontan di kontolku melihat pemandangan yang…ahhh…badannku langsung panas dingin.Entah kenapa padahal sebelumnya juga biasa-biasa saja,kadang-kadang dia berlari ke kamar mandi tanpa memakai bajupun pernah aku liat.Dan akupun hanya ketawa-ketawa aja kalau melihat tingkah dia yang mungkin buat orang lain bisa menaikkan birahi kaum lelaki.Dan itu pun tidak dilakukan di depanku saja kadang-kadang didepan teman-teman yang sering nongkrong di rumah mbak Ni, meskipun tidak bugil saat aku melihat waktu itu.Sehingga kami menanggapi biasa saja karena mungkin itu ungkapan perasaan saat ditinggal pergi Mas Ranto,agak stress kita bilangnya.Tapi kali ini benar-benar membuat gairahku naik seketika dan celanaku terlihat menonjol.Mbak Yuni pun langsung sadar ketika ada tonggak yang naik di celanaku dan masih sambil sesenggukan diapun tidak bias menahan rasa gelid an akhirnya tersenyum.Sambil mengusap air matanya dia nyeletuk,”Ternyata kamu napsu sama orang yang lagi sedih ya Don…”.
“Ah mbak Yuni ni ada-ada aja..”,bantahku.
“Buktinya aku jalan sambil bugil aja..kamu cuma ketawa-ketawa…,”jawabnya sambil nyengir.”Udah ah aku mau mandi…ikut gak ,”ajaknya sambil memelorotkan lilitan handuknya meskipun tidak melepaskan hanya menggantung di dadanya dan punggungnya terlihat sampai di atas belahan pantat.
“Mumpung gak ada orang nih..,”ledeknya sambil nyengir.
“Kemarin kan ada mbak Ni sm anak-anak…,nah sekarang…,”masih sambil nyengir dia masuk kekamar mandi dan menunjuk kearah kontolku yang masih agak nongol dengan matanya.
“Aku pulang dulu mbak ah…mau mandi juga,”teriakku.
“Kok pulang…mau ngapain?”balasnya dari kamar mandi.
“Mau ngocok ni…habis dipeluk emak-emak,”seruku dan sambil berjalan keluar rumah dan masih terdengar cekikikan mbak Yuni karena jawabanku tadi.Sambil menarik nafas karena membayangkan tubuh mbak Yuni tadi aku bergegas mengambil motor dan pulang.
Pada malam hari rumah mbak Ni sudah ada anak-anak kampungku yang biasa nongkrong di rumah itu.Karena siangnya mereka pada kerja dan tidak seperti aku yang masih kuliah,mereka sudah bisa mencari uang sendiri.Maka itu malam kita bisanya ngumpul sambil gitaran atau main kartu.
“Don anterin mbak yuk..beli susu si Arif sama beli makan…aku gak masak mbak Ni katanya gak pulang mala mini jadi nanggung klo masak,”tiba-tiba dari belakang suara mbak Yuni.
“Gak bawa motor aku mbak..sama si Toro aja deh..,”jawabku males.”Kamu pake motor ku aja sana nanggung lagi asyik maen kartu ne..kamu kan cuma gitaran sendiri,”kata Toro.
“Iya..pake motornya aja..lagi nanggung ne kita berempat…”timpal Encun.
“Sini kunci motornya…”kataku sama Toro.”Yuk mbak sekarang…,”ajakku sama mbak Yuni.
“Nitip si Arif ya Cun…belum bangun dari tadi sore tuh di kamar…,”kata mbak Yuni sama Encun.Kemudian aku dan mbak Yuni segera berangkat ke Supermarket untuk beli kebutuhan mbak Yuni.

“Jadi ngocok tadi don…,”mbak Yuni membuka pembicaraan.”Yee..sayang amat aku ngocok…lecet anuku mbak,”jawabku.”Hihihi…enakan langsung ke lubangnya ya….,”gurau mbak Yuni.
“Mbak mundur dikit dong mbak…,”kataku sama mbak Yuni.
“Kenapa don..,”tanyanya.
“Ntar punggungku bolong kena tetek mbak…”,jawabku sambil cengengesan
Mbak Yuni bukannya mundur dia malah semakin merapatkan dadanya ke punggungku dan tangannya pegangan di pahaku.”Gak ah..enakan nempel..anget,” katanya sambil menekan jarinya di pahaku.Kembali penisku mulai meronta karena jarinya tinggal berapa centi dr batang kemaluannku.Dan karena aku sedari sore tadi sudah mulai horny gara-gara mbak Yuni mencoba menggodaku hingga kebawa sampai detik ini.
“Don udah lama sejak tinggal di Subang dengan mas Ranto aku jarang berhubungan….”mbak Yuni membuka pembicaraan.”Sejak dia mulai sering keluar malam..yang kutahu dia mulai main dengan obat-obatan,mbak jarang sekali di jamah sama dia.Pulang selalu malam-malam dan pagi mbak berangkat kerja dia masih tidur,”katanya.
“Sampai sekarang…,”tanyaku.
“Ya pernah tapi jarang..itupun kalo dia lagi pengen banget.Mbak juga udah gak gitu bernapsu karena dia jarang bersih-bersih badan kalo pulang malam,”jawabnya.”Apalagi sekarang mas Ranto gak tahu kemana…,”jawabnya lagi
Sampai lah kami di supermarket dan mbak Yuni masuk ke dalam sendirian dan sekitar seperempat jam dia keluar.
“Cari makan yu sekarang..,”ajaknya.Dan kami pun cari tempat makan untuk mbak Yuni.”Kamu udah makan belum Don…sekalian yuk,gak jadi bawa pulang…makan ditempat aja,”tanyanya.
Setelah selesai makan kamipun pulang karena sudah terlalu lama kami makan sambil ngobrol sampai lupa kalo motor itu punya Toro.Sampai dirumah ternyata tinggal Toro yang nunggu motornya.”Lama amat ye perginya…,”tanyanya.”Sory toy…..,”belum selesai aku menjawab mbak Yuni menimpali
“Tadi motor kamu bocor..kita nyari tempat tambal ban dulu…,”sahutnya.Akupun sempat kaget , cepat juga mbak Yuni bo’ongya.akupun nyengir dengarnya.”Sorry ya Toy…,”kata mbak Yuni.
“Gak pa2 mbak…berapa nig anti uang tambal..,”jawabnya gak enak.”Gak kok pake uang dony tadi…,”liriknya ke aku.
“Yah kalo Dony sih gak perlu aku ganti…ya gak Dony…hehehe…aku pulang dulu ya besok mau kerja…oh iya mbak tadi si Arif bangun sebentar tapi tidur lagi Cuma minta minum doang…,”kata Toro.”Makahu sih ya Toy…,”jawabku.
Mbak Yuni masuk ke dalam nengokin si Arif mana tau dia bangun lagi.Aku duduk diruang depan sambil menyalakan rokok.Mbak Yuni keluar dan mengajak aku ke dalam,”Dony..masuk kedalam aja yuk..mbak juga pingin merokok nih,gak enak di luar,”Akupun mengikuti mbak Yuni dari belakang dan ternyata di sudah memakai daster yang tipis dan bawahnya diatas lutu.Ahh..gila lekuk tubuhnya kelihatan jelas dengan pantat yang masih bulat naik.Pikiran ku mulai jorok lagi melihat pemandangan di depan aku.
“Mbak bikini kopi ya Don…,”katanya.”Bbbo..bboleh…,”gelagapan aku menjawab karena pikiranku masih ke bagian belakang mbak Yuni.
Akupun duduk di dapur sambil menunggu mbak Yuni buat kopi.Sambil merokok aku memandangi kembali tubuh mbak Yuni dari belakang.
“Duduk di taman samping aja yuk Don biar asep rokoknya gak didalam rumah…,”ajaknya sambil membawa kopi.
Dan kamipun duduk di sofa bekas yang memang sengaja di taruk di taman dalam rumah yang letaknya di samping dapur.”Bagi rokoknya don…,”pinta mbak Yuni sambil mengambil rokok yang aku letakkan di meja kecil depan kami.Dan kembali aku melihat tetek di balik dasternya yang longgar meskipun tidak begitu terang karena hanya lampu dari dapur yang menerangi taman tersebut.Terlihat memang masih bulat apa karena menggantung saat agak menunduk waktu mengambil rokok di meja.
“Gak pake BH ya mbak…,”aku iseng menanyakan sama mbak Yuni.”Ih kok liat aja sih..dasar nakal,”jawab mbak Yuni sambil mencubit pahaku.”Ya emang keliatan nyembul..gimana aku gak liat…polos bener…,”bisikku.
Mbak Yuni menghidupkan api rokoknya dan menghisap dalam-dalam,”Heeeh….sudah lama Don mbak gak merasakan berpeluh dengan mas Ranto…,”jawabnya sambil menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa dan kembali dasternya ketarik keatas hingga bagian pahanya terbuka ke atas.Serba salah aku untuk meletakkan posisi dudukku untuk sandaran karena penisku mulai lagi berdiri dan apalagi aku hanya memakai celana dalam boxer yang agak longgar dan celana pendek basket sehingga dalam suasana cahaya lampu dari dapur masih terlihat celanaku menonjol.Tapi karena posisi mbak Yuni yang juga seenaknya akupun juga masa bodo karena nafsu ku yang sudah memuncak.Dan karena kami duduk di sofa kecil yang memang hanya untuk dua orang paha kamipun saling beradu.
mbak Yunipun bangkit dari sandarannya dan kembali tangannya memegang pangkal pahaku,”Don..bantu mbak lagi ya..sekali ini saja…”pintanya sambil menggesek-gesekkan tangannya yang menambah rangsangan di selangkanganku.Akupun hanya terdiam gugup dan hanya bisa menatap mata mbak Yuni.Jelas terdengar nafasnya mulai memburu dan tangannya mulai memegang batang penisku yang sudah tegang.Saat yang memang aku tunggu-tunggu dari tadi datanglah sudah.”Mau ya Don…,”kata mbak Yuni sambil masih meremas kontolku.
Aku hanya mengangguk saja dan masih posisi bersandar kurasakan suatu sensasi kenikmatan di penisku.Dan kemudian kurasakan tangan mbak Yuni menarik celana pendek dan celana dalamku.Akupun membantunya untuk membuka celanaku dan membuang rokok yang masih ada di tangan aku dan mbak Yuni.
Kini tinggal baju yang menempel di badanku dan mbak Yunipun mulai mengambil posisi jongkok dan kembali memegang kontolku sambil mengocok pelan.
“Ahhh….mmmhhh….mbbaak……,”rintihku keenakan.Dan mbak Yuni kembali memulai aksinya dengan mulai mengulum batang penisku.
“Mmmppphhh..sslluuppp….Don…..mmmmhhhhh….,”bisik mbak Yuni.
Tangankupun tidak bisa tinggal diam kutari tali daster di pundaknya kebawah dan kuraba teteknya yang membayangiku sore tadi sambil meraba-raba mencari putingnya sebelah kanan.
“Ouughhh…Don…ennaakk sayaanng…..janghaan kencenggghh-kenccenggg yyyaaa….mmmmmhhh….,”desah mbak Yuni dan lupa untuk mengulum penisku.
Dan dengan nafas memburu dia berdiri dari jongkoknya dan duduk di atas pangkuanku sambil menarik bajuku keatas dan sekarang aku tidak memakai baju sama sekali.Kemudian mbak Yuni melepas tali daster yang sebelah kirinya hingga sekarang terlihat payudaranya yang bulat meski agak kendor kebawah tapi cukup membuatku tambah bernapsu.
Sambil meremas teteknya akupun menghisap putingnya,”Aahhh….jilat yang enak Don….ayyuuuhhhh sayaangg…..”pinta mbak Yuni sambil kedua tangannya memegang kepala rasa yang sempat hilang.
“Mhhhh….mbak….masih kenceng punyamu sayang….mmmmhhhhhppp….,”kataku sama mbak Yuni.
Belum selesai aku menikmati buah dadanya mbak Yuni berdiri dan melepaskan celana dalam serta membuka dasternya.Didepanku kini nampak wanita yang kukenal baik dan lugu sekarang sudah tidak memakai sehelai kain penutup satupun.
“Don masukkan penismu sekarang ya..mbak udah gak tahannn…..,”sambil dia mengarahkan memeknya ke batangku.Tapi aku cepat menahan pinggangnya untuk tidak memasukkan batangku ke liangnya.
“Sabar mbak ntar aku bikin mbak tambah pusing dulu…,”kataku sambil kudekatkan mulutku ke memeknya.
“Ngapain Donnn…,”Tanya mbak Yuni masih dengan nafas memburu.Dan akupun tidak menjawab langsung kutarik pantatnya kearah mukaku agar aku bisa menjilati klitorisnya.
“Arrggghhhh…..Donn…jangaann Don…jijik kamu nanti…,”sambil masih dengan posisi berdiri di depanku dia memegang rambutku dan menolak ke belakang.Tapi aku tidak menghiraukan dan masih kujilati daging kecil di memeknya dan menahan pantatnya agar tidak mundur.
“Arrhhh….Don…mmhhhhh…eennaakk..sayang…..,”desah mbak Yuni
“Teruskan sayaaannnggg…..,”kembali mbak Yuni berbisik tapi sekarang kedua tangannya menarik kepalaku dan ditempelkan di memeknya sampai aku sempat gelagapan.Busyet…basah bener ni meki mbak Yuni padahal baru sebentar aku bermain-main di daerah mekinya.Kemudian dia mendorongku sehingga aku duduk bersandar di sofa dan sambil memegang kontolku dia mulai mengarahkan meki nya ke lubang yang sudah basah.
Dan….blessshh…”Ouuffhhh…don…mbak…ggaaakk tahaaan Don…..,” mbak Yuni dengan mempercepat ritme nya naik turun dan sekarang posisi Women on Top.Liukan badannya pun terlihat di depanku seperti seorang yang kehausan dan tanganku pun tidak tinggal diam kupegang teteknya sambil meremas-remas dan memainkan putingnya.
“Ahhhh…oouuffhhh…..saayaaang…remas yang kuat Dddoonn…..,”pintanya sambil gerakan naik turunnya semakin kencang dan……
“Aarrgghhhh…..ddoon..doonn..doooooonnn….,” mbak Yuni terkulai sambil memelukku dan menghujamkan pantatnya dalam-dalam ke pangkuanku.”Mbak keluarrr saayyanng…..mmmhh….,”bisiknya sambil bibir kami berpagutan.Serrr…serrr….ada rasa hangat di kontolku ketika mbak yuni memelukku.
“Udah keluar mbak….,”Tanyaku.Dia tidak menjawab dan hanya menganggukkan kepalanya.
“Jangan dilepas dulu ya Don…aaahhh…nikmat banget rasanya…,”bisik mbak Yuni lagi.
Kubiarkan dia memelukku sambil batangku masih menghujam di liang mbak Yuni.Karena aku masih merasa nikmat sedikit aku goyangkan dan menyodokkan kontolku ke meki nya sambil kuciumi leher mbak Yuni.
Mbak Yuni pun sudah mulai terangsang lagi dan dia mulai posisi duduknya.sambil menggoyangkan pantatnya naik turun.Akupun kembali menjilati puttingnya dan meremas-remas dadanya.
“Ahhhh…saayyangg..terus diemut tetek mbak ya…mmmhhhhh…..,”desahnya lagi.Tidak lama mbak Yuni menghentikan goyangannya dan memintaku untuk posisi di atas.Kubaringkan badan mbak Yuni tanpa melepaskan batang kontolku dari meki nya.Dia tidur diatas sofa sambil kakinya memagut pinggangku dan kaki kananku naik diatas sofa.
Kusodokkan batangku perlahan kearah memeknya.
“Ahhh..mbak..eennaaakk banggettt…mbbaaakk…oufffhhhh….,”bisikku pelan.
“Teruskannn ddhoonnn…aaahhhh….eenaakk baannggeett…..aaahhh….,”desahnya.
Sambil kugoyangkan pantatku tangan kananku memegang paha mbak Yuni yang berada di pinggangku dan tangan kiriku kembali meremas-remas teteknya.Aku merasakan kaki mbak Yuni menjepit pinggangku dan sambil menggoyangkan pantatnya dia berkata,”Aayyuuhh…dooonnn…cepetin dikit sodokannya…mmbaak uddahhh mau keluar lagi nihhh…..,”
“Aahh…aahhh..aaahhh..mmmmhh…aaaaahhhhhhh…..dddoooonnn..mbak mau keluaaarrr…donnn…..,”jerit mbak Yuni tertahan.Dan kembali kurasakan hangat cairan di kontolku dan masih menahan kakinya di pahaku mbak Yuni kelihatan menikmati ejakulasinya yang kedua.
“Don..ntar lagi ya Don…mbak capek banget….kamu belum keluar ya…,”bisik mbak Yuni
Sambil masih terengah-engah aku menjawab,”Sebenarnya udah mau mbak tapi mbak Yuni menekan pinggangku pakai kaki mbak jadi ketahan deh….ya udah ntar lagi deh mbak….”.
Sambil masih tidak memakai baju mbak Yuni duduk diatas perutku dan kepalanya agak dekat dengan kontolku yang masih tegang.Sambil menyalakan rokok kami berdua terdiam merasakan basahnya keringat di tubuh kami.Tanganku pun masih mencoba untuk merangsang mbak Yuni dengan memainkan jariku dibibir kemaluan mbak Yuni.Belum sampai separuh batang rokok aku hisap, kedua paha mbak Yuni menjepit tanganku yang kumainkan di memeknya pertanda dia mulai terangsang kembali.Akupun meletakkan kembali rokokku dan menarik wajah mbak Yuni di pangkuanku dan kuciumi bibirnya.”MMhhh….mmmhhhhh….,” mbak Yuni menikmati ciuman kami dan tangannya pun mulai mengocok kontolku.Dia kembali berdiri dan membelakangiku sambil memegang batang penisku dan memasukkan kembali ke dalam memeknya.
“Ayuhh don…aahh…mbaak sudaahh kepenggeennnyy laggi nih…,”dengan agak membungkuk aku menyodokkan kontolku dari belakang sambil memainkan teteknya dari belakang.Karena posisi mbak Yuni membelakangiku dan kakinya rapat sehingga terasa denyut dari dalam memek mbak Yuni di kepala penisku.Giliran aku yang kelimpungan dengan rasa nikmat itu.
“Aahh…aahh..aahh….,:kusodok-sodokan kontolku lebih cepat dan tangan mbak Yuni pun memegang tanganku yang masih memainkan teteknya.Remasannya bertambah kuat dan tidak lama kemudian…”Aaahhhh…mbak kkellluaarr lagi Ddooonn…….,bisik mbak Yuni.Terasa bibir memeknya menyedot kemaluanku dan aahhh…luar biasa nikmatnya meskipun aku belum sampai klimaks karena mbak Yuni sudah keluar duluan.Kemudian dia membalikkan badannya dan memintaku untuk menjilati itilnya.
“Don jilati lagi yang kayak tadi kamu buat ke mbak ya…,”bisiknya di wajah aku.Terlihat pantulan keringatnya terkena sinar lampu dapur dan nafas yang masih memburu.
“Mas Ranto dulu gak pernah mau menjilati katanya geli…,makanya mbak baru menikmatinya tadi,”rayu mbak Yuni.
Tanpa berkata-kata lagi kutarik pantat mbak Yuni ke depan mukaku dan masih posisi berdiri mbak Yuni memegang rambut kepalaku.Aku mulai memainkan lidahku di atas klitorisnya.
“Mmmmmhhh…ssllluuppp…mmghghh….,”suaraku mendesah agar mbak Yuni merasa lebih terangsang.
“Ahh..arrg…..mmmmmmmmhhhhhh…..aayuuuhh..ennaakk..doonn….,”tertahan suara mbak Yuni dan mulai menggoyangkan pantatnya.Dan akupun kembali merasa “ngap” karena tidak ada ruang untuk bernapas tapi kepalaku aku putar-putar liar agar ada udara yang masih bisa aku hirup. mbak Yuni pun menggelinjang merakan itilnya aku jilat dank u gigit-gigit kecil.Kembali mbak Yuni mendorong badanku duduk di sofa dan dia duduk dipangkuan ku lagi seperti ketika awal tadi.Sambil memasukkan kontolku ke memeknya kujilati putingnya agar mbak Yuni menikmati sensasi di tetek sama memeknya.
“Aahhh…ddooonnnn….eennaakkk ddoonn…..ooufffhhhh….,”kembali mbak Yuni mendesah liar sambil menggoyangkan seluruh tubuhnya.Hampir aku tidak bisa menahan beban mbak Yuni yang bergerak liar tapi aku berusaha mengimbangi goyangannya dan kamipu saling menyodokkan kontol ke meki dan sebaliknya.
Aku mulai merasakan ada getaran-getaran di urat kemaluanku..dan kepalaku mulai merasakan pusing melayang saking enaknya.Dan kami berdua pun semakin liar saling meremas dan menjambak.
“Aaahhh……aahhh…ayuuuhhh..donnnnhh…,”desah mbak Yuni
“Ennaakkk banget sihh…oufhhh….,”katanya lagi sambil mempercepat goyangannya.
“Aaahhh…mmbaakk…eennaaakkk.bbaannggett…aahhhh…ouufffhh….,”akupun semakin meracau tidak karuan dan masih sambil meremas-remas tetek mbak Yuni.
“Ddooonnn..ayyuuh..donn..kelluarriinn punnyaamuu saayyyaanngh…mbak udah mmaww laagii niiggh…oohh..ooohh..oohhhhh…dddooooonnnn…mmmmmggg..,”jerit mbak Yuni lirih.
Dan akupun semakin terangsang mendengar rintihan mbak Yuni itu dan semakin membuat kepalaku pusing melayang dan denyut di urat kontolku semakin kencang dan..
“Mmbaakkk…aakkuu…mmmauu kelllluuuaaarrr juugghhaa ..aahh…aaahhh…,”kataku semakin tidak karuan.
“Mbbaakk aku maauuww kelluaarrr…aarrrghhhh..aahhhhhhh….,”teriaku lirih..
“Mbak juga mau kkeeellluaarr ssaaayyaaannggg..eehhh..mmmmmhhhhh…kelluuaarinnnn dddallaam ajjaa ddonnn…aahhhh…..,”desahnya.
“Mbaakkk..aahhh..kkellluaarrrr..croott..croottt……cccrrrootttt..aarrrghh…,”badanku meregang dan kupeluk badan mbak Yuni erat dan begitu juga mbak Yuni,”DDooonn…dooon…aaarrghhhh..ddoooooooonnnn…..seerrrr..serrr..sseeerrr….,”rintih mbak Yuni
Dan kamipun terkulai lemas dan tubuh kami basah dengan keringat sambil berpelukan.Aduh kurasakan nikmat yang sangat dalam malam ini.
“Mbak sory ya mbak….,”bisikku.”Gak papa don…mbak yang terima kasih..selama ini mbak udah jarang merasakan kenikmatan seperti ini,”katanya.
“Jangan pulang dulu ya don…mbak mau minta sekali lagi…boleh…,”rayunya.Aku hanya mengangguk tanda setuju karena waktu masih jam 1 malam dan artinya sebelum subuh aku sudah di rumah tanpa diketahui orang.Kami pun memakai baju kami karena udara sudah agak dingin.Dan kami menyalakan rokok kembali sambil beristirahat karena badan kita masih terasa capek.

Hingga larut malam aku dengan mbak Yuni masih meneruskan hasrat kami yang masih membara hingga menjelang subuh.Selama masih di kampungku kami masih mencuri-curi waktu untuk bercinta sampai aku kembali meneruskan kuliah dan jika aku tidak ada kuliah lagi.

Saat ini aku sudah menikah dan terakhir mbak Yuni kudengar sudah mempunyai anak lagi dan aku mendengar bahwa mas Ranto meninggal belum ada sebulan ini karena kecelakaan di luar kota.Karena aku mendengar kabar tersebut maka aku ingin mengisahkan percintaan terlarang tersebut ke pembaca karena aku teringat dengan mbak Yuni.

cerita Seks

Pengirim:
Dony
dony.dhon@gmail.com


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.